- Media Cetak ( koran , Majalah , dsbnya)
- Media elektronik ( Tv , Radio dsbnya )
- dan Media online
Dan kini sejak adanya Kemajuan teknologi , orang-orang menjadi lebih mudah untuk mendapatkan berita ataupun peristiwa yang sedang ataupun terjadi. orang-orang dapat tahu mengetahui peristiwa apa saja yang baru terjadi dengan cepat dan aktual , salah satu caranya yaitu melalui internet , dengan internet orang -orang lebih mudah menemukan berita dengan cara Browsing ataupun Googling, ini beberapa situs yang dapat dijadikan acuan untuk mencari berita yang sedang ternjadi :
- www.detik.com
- www.fajar.co.id/
- www.kaskus.co.id
Berita dapat menyangkut banyak hal dan ada beberapa sifat berita Yaitu :
- Harus aktual (masih baru)
- Memiliki unsur jarak
- Penting
- Peristiwa
- Bencana
- Dampak
- Cerita-cerita yang menggugah
- Unik
- Konflik
- Sex
- Icon kota
- People ( orang - orang )
- Komunitas
1. Berita Aktual
yaitu berita yang masih baru dan memiliki nilai berita yang lebih untuk disebarkan dengan segera berikut contoh berita aktual yang terjadi , dan saya kutip berita ini dari TRIBUNNEWS.COM, | Jumat 19/04/2013 09:40 WITA
" TRIBUNNEWS.COM, SUNGGUMINASA -
SMA Negeri 1 Sungguminasa Mengerjakan Soal UN fotokopi
Sebanyak 336 siswa/siswi SMAN 1 Sungguminasa Gowa terpaksa
mengerjakan soal fotokopi untuk mata pelajaran Kimia saat pelaksanaan UN
tingkat SMA/SMK/MA, Kamis (18/4/2013).
Wakil Kepala Sekolah SMAN 1 Sungguminasa, Sakri mengungkapkan sekolah mereka memang tidak mendapatkan jatah soal Kimia.
"Jatah
soal untuk SMA Salis (SMAN 1 Sungguminasa) memang tidak ada, dua kali
pengiriman soal untuk kami tidak ada, sampai jam 10 malam kemarin saya
menunggu di Polres Gowa," paparnya.
Akibatnya Sakri harus mencari
jatah soal sekolah lain yang kelebihan dan mengkopi untuk kemudian
dibagikan ke 17 ruangan yang digunakan ujian. Bahkan lembar jawabannya
pun hasil fotokopi.(Cr2)
2. Sex
yah mungkin sudah banyak yang mengetahui berita yang berbau sex terkadang sangat menarik bagi sebagian orang terkhusus mereka yang sangat suka berita seperti ini , biasanya berita sex terdiri dari tips-tips dan cara untuk , untuk apa ya ? cari sendiri deh gak enak ngejelasinnya :3 , ini contoh berita sex
www.detik.com | Rabu, 17/04/2013 08:01 WIB
Seks Teratur Bikin Badan Sehat, Bahkan Bisa Cegah Flu
Jakarta - Jangan ragu untuk rutin melakukan hubungan seks dengan pasangan sah Anda. Para peneliti menyebutkan banyak manfaat yang bisa didapatkan bila melakukan seks secara rutin. Bahkan seks teratur bisa mencegah flu.
"Berhubungan seks secara teratur tidak hanya membuat Anda lebih dekat dengan pasangan, tetapi juga dapat membuat fisik Anda dan pasangan semakin sehat," ujar Dr. Hilda Hutcherson, profesor klinis kebidanan dan ginekologi di Columbia University, dikutip dari Mid-day, Rabu (17/4/2013).
"Penelitian yang dilakukan oleh University of the West of Scotland mengungkapkan bahwa orang-orang yang melakukan hubungan seks setidaknya 2 minggu sekali lebih mampu mengelola situasi stres dalam kehidupannya sehari-hari," sambung Stuart Brody, Ph.D, seorang peneliti dan profesor psikologi.
Disampaikan juga oleh Laura Berman, Ph.D, hal ini dikarenakan hormon endorfin dan oksitosin dilepaskan selama berhubungan intim. Hormon ini memicu pusat pengatur kesenangan yang ada di otak. Hormon ini juga menciptakan perasaan keintiman dan relaksasi, serta membantu mencegah timbulnya kecemasan dan depresi. Berman saat ini merupakan asisten klinis profesor obstetri ginekologi di Feinberg School of Medicine di Northwestern University.
"Seks juga akan memastikan tidur yang lebih lelap karena endorfin yang dilepaskan juga dapat menenangkan pikiran dan tubuh, sangat membantu untuk dapat tertidur dengan lelap," ujar Cindy Meston M, Ph.D, direktur the Sexual Psychophysiology Laboratory di University of Texas, Austin. Jika mengalami orgasme, maka hormon akan melonjak secara maksimal dan efek yang didapat juga semakin baik karena saat itulah hormon prolaktin juga dilepaskan.
"Kadar prolaktin secara alami lebih tinggi ketika kita sedang tidur, hal ini menunjukkan hubungan yang kuat antara keduanya," lanjut Meston.
Seks juga dapat membantu meminimalkan rasa sakit. Lonjakan hormon yang dilepaskan setelah orgasme dapat membantu meringankan sakit, seperti sakit kepala. Sebuah studi yang dilakukan The Headache Clinic di Southern Illinois University mengungkapkan bahwa setengah dari wanita pencerita migrain melaporkan merasa sakitnya mereda setelah mencapai klimaks dalam seks.
"Endorfin yang dilepaskan selama orgasme sangat mirip dengan morfin, dan secara efektif mampu mengurangi rasa sakit," ungkap Meston.
Peneliti juga mengungkapkan bahwa seks dapat mengurangi risiko flu. Orang-orang yang rutin berhubungan seks ditemukan memiliki tingkat antibodi immunoglobulin A (IgA) yang lebih tinggi. Menurut para peneliti di Wilkes University, Pennsylvania, antibodi ini membantu melawan penyakit dan menjaga kondisi tubuh dari flu dan pilek.
3. Konflik
biasanya berita ini bersifat 2 side atau dua sisi yang saling bermusuhan ataupun sedang bermasalah, dalam hal ini masalah atau konflik mereka menjadi hal yang patut di beritakan seperti konflik antara orang terkenal ataupun masalah antar orang banyak , dan berita konflik banyak menarik perhatian orang-orang , yah menurut dosen saya sih " Bad News Is a Good News " yah mungkin itulah mengapa banyak konflik yang sekarang diliput berikut contohnya :
detikhot | Jumat, 19/04/2013 14:19 WIB
Dites MUI, Eyang Subur 3 Kali Salah Baca Al Fatihah
Jakarta - Eyang Subur mengaku hanya gugup saja saat dites membaca Al Quran khususnya Surat Al Fatihah oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI). Namun, belakangan terungkap cerita bahwa Subur salah berkali-kali.
Hal itu diungkapkan oleh tim pengacara Subur, Abu Bakar Lamatapo. Ia akhirnya 'terpaksa' mengungkapkan hal itu karena merasa terpojok dengan perkembangan berita soal tak mampunya Subur membaca Al Quran.
Namun, Abu menolak jika hanya karena itu kliennya lantas dibilang sesat. Sebab, bagaimana pun, semua berawal dari niat untuk mendamaikan Subur dengan Adi Bing Slamet.
"MUI meminta 'mau nggak islah'. Oke islah (damai), tapi jangan kemudian memvonis orang ini sesat hanya karena salah baca Al Fatihah tiga kali," kata Abu Bakar di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (19/4/2013).
Pengacara Subur lainnya, Ramdan Alamsyah pun meminta MUI melihat secara jernih untuk masalah tak lancarnya Subur membaca Al Fatihah. Menurutnya, dari situ, belumlah bisa menetapkan kesesatan Subur.
"Kami mengetuk hati MUI supaya netral, jangan hanya menuntut, kami menggunakan nurani tapi MUI juga pakai nurani," pinta Ramdan.
4. Komunitas
Sebagian orang akan tertarik dengan suatu berita, jika berita itu membahas atau menceritaan tentang komunitasnya. Meskipun berita itu diambil dari luar negeri. Dikarenakan, seseorang tersebut ingin mengetahui atau membandingkan komunitas mereka dengan komunitas yang sama di luar negeri sana. Berikut contoh berita yang bersifat komunitas.
Tribunnews.com | Sabtu, 23 Maret 2013 17:27 WIB
Earth Hour Makassar Dipusatkan di Benteng Rotterdam
TRIBUNNEWS.COM, MAKASSAR - Komunitas Earth Hour Makassar, tahun ini memusatkan kegiatan penghematan energi melalui pemadaman lampu selama satu jam, di Benteng Rotterdam Makassar, Sabtu (23/3/2013). Tahun lalu acara serupa dipusatkan di Anjungan Pantai Losari.Ketua Komunitas Earth Hour Makassar, Abadi mengatakan kegiatan ini akan diikuti sekitar 600 orang dari berbagai komunitas akan berbaur bersama.
Acara telah dimulai sejak pukul 15.00 Wita tadi, dengan melakukan karnaval dari monumen Mandala, menuju titik kumpul di Benteng Rotterdam, Sabtu (23/3/2013).
"Kami telah bekerjasama dan mengimbau, gedung-gedung maupun hotel di sekitar Pantai Losari, Jl Jenderal Sudirman, Jl Ahmad Yani, agar mematikan lampunya," kata Abadi.
Wagub Sulsel, Agus Arifin Nu'mang, dan beberapa jajaran muspida akan ikut serta secara langsung di Benteng Rotterdam malam ini meramaikan Earth Hour.
5. Cerita Menggugah
Banyak orang yang tertarik akan berita yang menceritakan kisah seseorang dan bagaimana kisahnya karena kisah tersebut memiliki jalan sendiri berikut contoh Cerita menggugah
Tribunnews.com |Jumat, 19 April 2013 06:41 WIB
Janda Pemulung Ini Kuliahkan Dua Anaknya
Tribunnews.com —
Matahari belum menunjukkan sinarnya. Namun, Ketrina Lotkeri sudah mulai
beraktivitas. Dengan kantong di punggung serta kertas plastik di
tangannya, janda 67 tahun itu meninggalkan rumah sederhananya yang
berdiri di sebuah lorong bilangan Jalan Dr Kayadoe, kawasan Rumah
Tingkat Kudamati, Kota Ambon.
Ibu berambut putih karena termakan usia itu memulai kesehariannya sebagai pemulung. Dipungutinya botol plastik bekas air mineral yang dibuang warga. Mulai keluar dari rumahnya itu, mata Ketrina hanya tertuju mencari botol-botol plastik bekas air mineral berbagai ukuran.
Tanpa alas kaki, pagi tadi, Kamis (18/4/2013), ibu lima orang anak itu berjalan menyusuri setiap lorong hingga jalan raya dan permukiman warga. Semua tempat didatangi Ketrina, termasuk hingga ke Desa Batu Merah, Kota Ambon. Namun, kebanyakan, Ketrina memungut di pusat keramaian, seperti di terminal dan Pasar Mardika.
Terik matahari yang membakar tubuhnya tidak membuat Katrina menyerah. Dengan hanya menutupi kepalanya dengan topi yang terlihat lusuh, dia tetap terlihat bersemangat.
Berbekal sepotong besi ditangannya, Ketrina memungut setiap botol yang ditemui di jalan sebelum dimasukkan ke karung plastik. Setelah penuh, dia pun memasukkannya ke keranjang yang dipikulnya itu.
Ketrina bukan tanpa sadar menjalani pekerjaan penuh risiko itu. Ia mungkin saja terjangkit penyakit dari sampah-sampah yang diangkutnya itu. Menurutnya, kekhawatiran itu pernah ia pikirkan saat awal-awal terjun sebagai pemulung. Seiring waktu berjalan, ternyata, kekhawatiran itu tidak terbukti.
Ia dan keluarganya hingga kini baik-baik saja, tidak terserang penyakit. "Kalau saya menyerah apa yang saya kerjakan bisa kena penyakit, saya dan anak-anak tidak bisa makan. Saya mencari nafkah untuk menghidupi keluarga. Apa pun bisa dilakukan, yang penting halal," tutur Katrina.
Setelah hampir seharian memungut, sore harinya, ia baru pulang ke rumahnya dengan keranjang dan karung penuh berisi botol gelas bekas air mineral. Di rumah, Ketrina dibantu dua anaknya membersihkan lagi botol dan gelas plastik hingga siap dijual. Biasanya, setelah sebulan, baru Ketrina menjual hasil memungut tersebut ke tempat pembelian di kawasan Gunung Nona Ambon.
Menurutnya, dalam sebulan, ia bisa mendapat 200 hingga 300 kilogram plastik. Satu kilogram dijual seharga Rp 6.000. "Hasil yang saya peroleh tidak menentu, kadang-kadang kalau bagus sebulan dapat banyak, tergantung rezeki, " katanya.
Katrina gigih berjuang sebagai pemulung, tanpa kenal cuaca, panas, maupun hujan. Aktivitas tersebut ia lakukan tiap harinya, kecuali kalau kesehatannya terganggu. Ia mengaku terkadang punggung belakangnya sering kesakitan. Namun, karena tak cukup uang, ia tak sempat pergi ke rumah sakit. "Punggung saya sering kesakitan, mungkin karena sudah tua, tapi saya tidak pernah ke rumah sakit, hanya beli obat di jalanan saja," ujarnya.
Kegigihan dan ketangguhan Ketrina sebagai pemulung bukan tanpa sebab. Selain agar bisa bertahan hidup, menafkahi kehidupan keluarga, perempuan itu juga ternyata bisa menyekolahkan dua anaknya hingga ke perguruan tinggi.
Dua anaknya ialah Herudia Lotkeri, saat ini tinggal diwisuda di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Ambon, dan Natalia Lotkeri, mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon.
Bagi Ketrina, anak-anaknya bagaikan mutiara sehingga ia tetap berjuang mencari uang agar mereka lulus mendapat gelar sarjana, sama seperti anak-anak lainnya. "Saya banting tulang, bekerja seperti ini agar anak-anak bisa jadi orang, paling tidak bisa jadi sarjana seperti orang lainnya, mereka kebanggaanku. Saya rela tidak makan yang penting mereka tetap kuliah," tutur Ketrina dengan mata berkaca-kaca.
Untuk menghemat biaya, Natalia harus indekos kamar di Poka dekat dengan kampusnya. Namun, setiap minggu, ia pulang ke rumah untuk membantu ibunya. Ketrina mengakui sering bertemu anak-anaknya saat memulung. Saat bertemu itu, mereka tidak pernah merasa malu kalau ibunya seorang pemulung.
"Anak-anak saya bangga kalau ibunya bisa mencari uang sendiri tidak bergantung orang lain. Meski menjadi pemulung, pekerjaan ini mulia dan yang penting halal," tuturnya.
Ketrina hidup menjanda sejak suaminya, Leonard Lotkeri, seorang petani di Maluku Tenggara, meninggal dunia di saat lima anaknya masih kecil. Sejak suaminya meninggal, ia harus menjadi kepala rumah tangga, membanting tulang menafkahi kehidupan keluarganya. Ia pun memilih merantau dari Maluku Tenggara ke Kota Ambon, 2006 silam.
Begitu tiba di Ambon, ia pun langsung menjadi pemulung. Ia mengakui bebannya sedikit ringan setelah dua anaknya menikah dan seorang lainnya tinggal bersama keluarganya di Maluku Tenggara.
Itulah tadi Contoh berita yang berisikan sifat berita jika ada kesalahan mohon di maafkan , dan saya juga berterima kasih kepada situs berita online yang telah memberi saya referensi untuk mengerjakan tugas kuliah saya , Trims
Ibu berambut putih karena termakan usia itu memulai kesehariannya sebagai pemulung. Dipungutinya botol plastik bekas air mineral yang dibuang warga. Mulai keluar dari rumahnya itu, mata Ketrina hanya tertuju mencari botol-botol plastik bekas air mineral berbagai ukuran.
Tanpa alas kaki, pagi tadi, Kamis (18/4/2013), ibu lima orang anak itu berjalan menyusuri setiap lorong hingga jalan raya dan permukiman warga. Semua tempat didatangi Ketrina, termasuk hingga ke Desa Batu Merah, Kota Ambon. Namun, kebanyakan, Ketrina memungut di pusat keramaian, seperti di terminal dan Pasar Mardika.
Terik matahari yang membakar tubuhnya tidak membuat Katrina menyerah. Dengan hanya menutupi kepalanya dengan topi yang terlihat lusuh, dia tetap terlihat bersemangat.
Berbekal sepotong besi ditangannya, Ketrina memungut setiap botol yang ditemui di jalan sebelum dimasukkan ke karung plastik. Setelah penuh, dia pun memasukkannya ke keranjang yang dipikulnya itu.
Ketrina bukan tanpa sadar menjalani pekerjaan penuh risiko itu. Ia mungkin saja terjangkit penyakit dari sampah-sampah yang diangkutnya itu. Menurutnya, kekhawatiran itu pernah ia pikirkan saat awal-awal terjun sebagai pemulung. Seiring waktu berjalan, ternyata, kekhawatiran itu tidak terbukti.
Ia dan keluarganya hingga kini baik-baik saja, tidak terserang penyakit. "Kalau saya menyerah apa yang saya kerjakan bisa kena penyakit, saya dan anak-anak tidak bisa makan. Saya mencari nafkah untuk menghidupi keluarga. Apa pun bisa dilakukan, yang penting halal," tutur Katrina.
Setelah hampir seharian memungut, sore harinya, ia baru pulang ke rumahnya dengan keranjang dan karung penuh berisi botol gelas bekas air mineral. Di rumah, Ketrina dibantu dua anaknya membersihkan lagi botol dan gelas plastik hingga siap dijual. Biasanya, setelah sebulan, baru Ketrina menjual hasil memungut tersebut ke tempat pembelian di kawasan Gunung Nona Ambon.
Menurutnya, dalam sebulan, ia bisa mendapat 200 hingga 300 kilogram plastik. Satu kilogram dijual seharga Rp 6.000. "Hasil yang saya peroleh tidak menentu, kadang-kadang kalau bagus sebulan dapat banyak, tergantung rezeki, " katanya.
Katrina gigih berjuang sebagai pemulung, tanpa kenal cuaca, panas, maupun hujan. Aktivitas tersebut ia lakukan tiap harinya, kecuali kalau kesehatannya terganggu. Ia mengaku terkadang punggung belakangnya sering kesakitan. Namun, karena tak cukup uang, ia tak sempat pergi ke rumah sakit. "Punggung saya sering kesakitan, mungkin karena sudah tua, tapi saya tidak pernah ke rumah sakit, hanya beli obat di jalanan saja," ujarnya.
Kegigihan dan ketangguhan Ketrina sebagai pemulung bukan tanpa sebab. Selain agar bisa bertahan hidup, menafkahi kehidupan keluarga, perempuan itu juga ternyata bisa menyekolahkan dua anaknya hingga ke perguruan tinggi.
Dua anaknya ialah Herudia Lotkeri, saat ini tinggal diwisuda di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Ambon, dan Natalia Lotkeri, mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon.
Bagi Ketrina, anak-anaknya bagaikan mutiara sehingga ia tetap berjuang mencari uang agar mereka lulus mendapat gelar sarjana, sama seperti anak-anak lainnya. "Saya banting tulang, bekerja seperti ini agar anak-anak bisa jadi orang, paling tidak bisa jadi sarjana seperti orang lainnya, mereka kebanggaanku. Saya rela tidak makan yang penting mereka tetap kuliah," tutur Ketrina dengan mata berkaca-kaca.
Untuk menghemat biaya, Natalia harus indekos kamar di Poka dekat dengan kampusnya. Namun, setiap minggu, ia pulang ke rumah untuk membantu ibunya. Ketrina mengakui sering bertemu anak-anaknya saat memulung. Saat bertemu itu, mereka tidak pernah merasa malu kalau ibunya seorang pemulung.
"Anak-anak saya bangga kalau ibunya bisa mencari uang sendiri tidak bergantung orang lain. Meski menjadi pemulung, pekerjaan ini mulia dan yang penting halal," tuturnya.
Ketrina hidup menjanda sejak suaminya, Leonard Lotkeri, seorang petani di Maluku Tenggara, meninggal dunia di saat lima anaknya masih kecil. Sejak suaminya meninggal, ia harus menjadi kepala rumah tangga, membanting tulang menafkahi kehidupan keluarganya. Ia pun memilih merantau dari Maluku Tenggara ke Kota Ambon, 2006 silam.
Begitu tiba di Ambon, ia pun langsung menjadi pemulung. Ia mengakui bebannya sedikit ringan setelah dua anaknya menikah dan seorang lainnya tinggal bersama keluarganya di Maluku Tenggara.
Itulah tadi Contoh berita yang berisikan sifat berita jika ada kesalahan mohon di maafkan , dan saya juga berterima kasih kepada situs berita online yang telah memberi saya referensi untuk mengerjakan tugas kuliah saya , Trims
Tidak ada komentar:
Posting Komentar